Emotional and Spiritual Trainig adalah training kepemimpinan dan pengembangan kepribadian dengan tujuan membentuk karakter tangguh yang memadukan konsep kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) secara terintegrasi dan transendental.
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain. Sedangkan prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar dari suatu aktivitas belajar yang dilakukan berdasarkan pengukuran dan penilaian terhadap hasil kegiatan belajar dalam bidang akademik yang diwujudkan berupa angka-angka kondite di dalam dunia pekerjaan pada umumnya.
Atas latar belakang diatas kami berusaha untuk memantu mewujudkan suatu pribadi yang baru yang lebih baik didalam menghadapi gejolak alam sekitar dengan penuh kedamaian.
Program kami:
1. Potensi Manusia (The Power Within)
2. Kekuatan Batin (The Inner Power)
3. Keselarasan Jatidiri ( The Care for The Soul)
4. Teknik komunikasi persuasif dan empati (Relationship Management)
5. Kepekaan dan Harmoni dalam Kelompok (Sensitivity Training)
6. Keseimbangan Raga, Logika, Rasa dan Jiwa (FLES Management).
7. Komitmen Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat
Kegiatan pelatihan dirancang agar peserta dapat memahami secara komprehensif materi yang disampaikan, sehingga dapat dimplementasikan secara aplikatif dalam dunia kerja. Adapun metode yang digunakan adalah:
1. Presentation.
Metode presentasi diberikan kepada peserta didalam kelas. Pelatih mengajarkan teori-teori yang diperlukan sedang peserta mencatatnya serta mempersepsikannya. Metode kuliah merupakan suatu metode tradisional karena hanya pelatih yang berperan aktif sedangkan peserta bersikap pasif. Teknik kuliah ini cenderung diterapkan dengan komunikasi searah saja sehingga dirasa kurang efektif
2. Discuss.
Metode diskusi dilakukan dengan melatih peserta untuk berani memberikan pendapat dan rumusannya serta cara-cara bagaimana meyakinkan orang lain percaya terhadap pendapatnya. Peserta juga dilatih untuk menyadari bahwa tidak ada rumusan yang mutlak benar. Jadi, harus ada kesediaan untuk menerima penyempurnaan dari orang lain, menerima informasi, dan memberikan informasi.
3. Case Study.
Dengan teknik studi kasus, pelatih memberikan suatu kasus kepada peserta. Kasus ini tidak disertai data yang komplet atau sengaja disembunyikan, tujuannya agar peserta terbiasa mencari data/informasi dari pihak eksternal dalam mengerjakan suatu kasus yang dihadapinya. Peserta ditugaskan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis situasi, dan merumuskan penyelesaiannya. Perbedaan metode konferensi dengan metode kasus terletak pada problem yang diberikan.
4. Evaluation.
Pada metode evaluasi, pelatih dan yang dilatih sama-sama berperan aktif serta dilaksanakan dengan komunikasi dua arah diharapkan peserta pengembangan terlatih untuk menerima dan mempersepsikan pendapat orang lain serta dapat mengambil kesimpulan atau keputusan dari problem yang dihadapinya. Jadi, setelah pelatihan mereka menyadari bahwa setiap perusahaan atau jabatan saling terkait dan saling membutuhkan.
Sekarang anda tahu betapa pentingnya program tersebut bukan? Daftarkan segera Tim anda untuk mengikuti Emotional and Spiritual Training dengan
Trivi Adventure Camp!