Perencanaan Pelatihan Outbound
Perencanaan pelatihan outbound dan pengembangan yang dilakukan di luar ruangan atau biasa disebut outbound, hanya akan efektif apabila dilaksanakan dengan baik. Outdoor training bisa menjadi bahan yang ampuh untuk pengembangan SDM, asalkan dikerjakan dengan benar, yakni berisi rangkaian program-program yang bagus.
Kompetisi seseorang bisa ditingkatkan melalui pengembangan pengetahuan, skill, dan sikap/karakter yang bersangkutan.
Outbound training bertujuan menggali dan meningkatkan skill dan karakter individu. Untuk hasil yang maksimal, kegiatan outbound idealnya dilaksanakan minimal 3 hari, fasilitas outbound harus memadai dan dipandu oleh instruktur yang berpengalaman. Dan yang terpenting, program outbound harus focus pada hasil, bukan pada aktivitasnya itu sendiri.
Untuk itu, sebelum melakukan kegiatan outbound, terlebih dahulu harus dirancang dan dipersiapkan dengan baik segala macam hal yang dapat menunjang keberhasilan tersebut. Secara umum ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menuju kegiatan outbound yang efektif sesuai dengan yang diharapkan.
1) Menetapkan target/tujuan
Untuk apa kegiatan outbound dilaksanakan? Setiap kegiatan pasti memiliki tujuan dan target yang ingin dicapai. Untuk mengasah kebersamaan (team building)? Memompa semangat berprestasi (achievment motivation)? Kepemimpinan (leadership)? Atau untuk tujuan yang lain?
Penetapan tujuan dan target ini penting untuk mendesain setting kegiatan yang akan dilaksanakan, meliputi pemilihan lokasi, merumuskan materi, dan jenis-jenis materi yang dilaksanakan dalam outbound tersebut.
2) Menentukan lokasi kegiatan.
Setelah tujuan atau target kegiatan telah ditentukan, maka setelah itu adalah menentukan tempat/lokasi kegiatan outbound. Adakalanya kegiatan outbound dilakukan hanya sebagai pelengkap atau variasi dari kegiatan dalam ruangan (indoor). Bila itu yang terjadi, maka pilihlah gedung atau aula yang memiliki halaman yang luas, atau dekat tanah lapang yang bisa dijadikan arena outbound atau permainan games.
3) Menyiapkan alat yang diperlukan.
Agar kegiatan outbound berjalan dengan baik, segala keperluan menyangkut peralatan yang dibutuhkan harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Untuk kegiatan fun outbound biasanya tidak memerlukan peralatan-peralatan yang rumit.
4) Menyiapkan tim instruktur.
Tim instruktur bisa jadi merupakan kunci keberhasilan kegiatan outbound training. Entah itu real outbound (high maupun middle impact) maupun hanya bersifat fun games. Instruktur harus orang yang berpengalaman di bidangnya, terutama outbound yang beresiko tinggi, sehingga outbound bisa menjadi aman dan nyaman.
Seorang fasilitator dan instruktur outbound yang professional setidaknya harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Memiliki kompeten dalam bidang ilmu manajemen, ilmu psikologi dan dinamika kelompok.
Tanpa memiliki kompetensi yang memadai seringkali kegiatan outbound hanya menjadi penderitaan fisik karena tidak jelas hubungan antara aktivitas fisik dengan ilmu manajemen dan perilaku yang harus dimiliki dalam kegiatan bisnis dalam era perubahan yang sangat cepat.
- Memahami rancangan permainan untuk mengungkap prilaku manajemen
Kegiatan dalam outbound training manajemen baru akan bermakna bagi pembentukan perilaku yang menunjang sukses bisnis bila kegiatan dirancang untuk mensimulasi perilaku organisasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, seorang fasilitator harus terlibat dalam perancangan kegiatan pelatihan outbound training. Dia harus mengetahui permainan outbound apa yang akan dimainkan, dan apa makna manajemen dari permainan tersebut.
- Memiliki kemampuan observasi dan kemampuan komunikasi yang baik
Observasi adalah bagian penting dari kegiatan outbound training. Kemampuan mengamati perilaku yang produktif dan prilaku yang tidak produktif mutlak harus dimiliki seorang fasilitator outbound training. Selain itu, dia juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang jelas dan memproses perilaku yang muncul tanpa membuat peserta outbound yang memunculkan prilaku tersebut tersinggung.
- Menarik dan berwibawa (pendidikan yang memadai, kepribadian yang menarik dan memiliki sense of humor yang baik)
Suasana pelatihan outbound training hendaknya harus penuh rasa gembira. Belajar dalam hati yang gembira akan sangat membantu efektifitas belajar. Oleh karena itu seorang fasilitator outbound harus mampu membuat suasana yang hangat dan gembira dengan humor-humor yang sehat tanpa menyinggung perasaan peserta outbound.
- Menguasai masalah teknis pelatihan termasuk masalah safety
Pelatihan di alam terbuka sangat terkait dengan kemungkinan untuk terkena cedera. Oleh karena itu kemampuan teknis dibidang keselamatan permainan sangat penting dimiliki, walaupun di dalam outbound traning ada tim medis, keselamatan pelatihan berada di tangan fasilitator/instruktur outbound training.
Selain hal diatas, dalam tahap perencanaan outbound ada beberapa yang harus diperhatikan agar kegiatan outbound training yang dilaksanakan dapat menghasilkan hasil yang optimal, diantaranya adalah..
- Interview. Ini perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran profil dari peserta outbound. Jangan sampai nantinya permainan super keras diterapkan kepada orang yang punya penyakit tertentu, Selain itu juga agar instruktur tidak terkaget-kaget di lapangan manakala karakter asli dari peserta muncul, sedangkan karakter itu belum tentu disenangi oleh sang instruktur, Jadi sudah ada semacam defend terlebih dahulu agar tidak terkaget-kaget (termasuk solusi bagaimana menanganinya).
- Variasi permainan. Ini penting dan mesti disesuaikan dengan kondisi dan budget. Semakin pandai seorang instruktur merancang suatu permainan, yang dapat mensimulasikan kerjasama antar anggota tim, semakin besar kemungkinan keberhasilan dari kegiatan outbound training tersebut.
- Keseriusan dan kesiapan peserta. Bila segala-galanya sudah bagus namun pesertanya tidak serius atau tidak siap, yang ada bisa-bisa hanya akan buang-buang waktu dan tenaga saja. Jadi apa gunanya kegiatan outbound training dilaksanakan.
- Komunikasi. Saat kegiatan outbound training berlangsung, harapannya karakter yang biasa digunakan para peserta selama di tempat kerja, karakter itulah yang digunakan. Nantinya bisa jadi akan timbul konflik dan bisa jadi masalah dalam komunikasi.